Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

3 Menit Sebelum Bayinya Meninggal , Ibu Ini Memiliki 5 Firasat Aneh , No 3 Paling Bikin Yakin


Bayi itu dilahirkan suci dan bersih. Kelak di alam maghsyar, ia menjadi penolong bagi kedua orangtuanya. Namun perlu diingat, anak itu hanya bisa menolong orangtuanya kalau mereka masih berada dalam jalan Islam. Kalau mereka sudah menyimpang dari jalan Islam atau berbagai peraturan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, pertolongan itu akan batal dengan sendirinya.

Kehilangan seorang anak pernah dialami Baginda Rasulullah SAW. Baginda dikurniakan tujuh orang anak, enam hasil perkawinan dengan Khadijah. Mereka ialah Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Fatimah, Ummu Kalthum. 
 
Anak-anak lelaki Rasulullah SAW meninggal sewaktu kecil lagi, manakala tiga anak perempuan meninggal dunia selepas berkahwin dan semasa Nabi SAW masih hidup. Baginda yang menjadi kekasih Allah SWT telah diuji dengan kepergian anak-anak Baginda.


 

 
Di dunia ini memang ada banyak sekali kematian yang terjadi tanpa diduga. Tapi tahukah kamu, kalau ternyata sebenarnya orang-orang yang akan meninggal itu memiliki tanda-tanda yang terkadang tak disadari.
Hmm, boleh kamu percaya atau tidak, yang pasti ini adalah 10 di antaranya tanda-tanda ketika orang akan meninggal. Meski tak sepenuhnya terjadi, beberapa orang mengakui pernah mengalami hal ini.
Berikut 5 Firasat Aneh Yang di Miliki Ibu Terhadap akan Meninggal Dunia : 

1. Bermimpi
 
Entah benar atau tidak, beberapa orang pernah menemukan kasus di mana ketika orang terdekat mereka meninggal.

2. Gelisah
Gelisah adalah sifat yang begitu alami. Namun beberapa orang bersaksi bahwa ketika orang terdekat mereka meninggal dan mereka mengingat-ingat pertanda, almarhumah akan sering merasa gelisah. Mulai tidak nyenyak saat tidur, sampai tiba-tiba bingung padahal orang itu aslinya begitu tenang dan teliti.

3. Sedih Ketika Melihat Anaknya
Rasa sedih ini beda dengan biasanya karena setelah melihat anaknya yang diam tanpa tangisan yang berbeda dengan anak lainya begitu lahir langsung menangis tetapi ini tidak , ini sungguh aneh dan membuat firasat semakin kuat.

4. Menangis tanpa Sebab
Ini yang sungguh aneh kadang-kadang ibu-ibu menangis tanpa sebab dengan tidak adanya alasan. 

Gara - Gara Ibunya Bayi Ini Hanya Melihat Dunia 1 Menit Karena

Thalassemia? Kata ini tak pernah melintas di pikiranku

Masih lekat dalam ingatanku betapa gembiranya saya dan suami ketika mengetahui saya hamil. Maklumlah ini adalah kehamilan yang pertama dan sangat dinantikan.
Pada awal kehamilan terutama di trimester pertama, saya tidak terlalu sering mengalami gejala morning sickness. Saya masih dapat melakukan aktivitas rutin seperti mengajar les dan kuliah.
Bisa dikatakan saya menikmati kehamilanku ini terutama setelah melewati trimester pertama. Cek rutin kehamilan oleh dokter kandungan dilakukan dan saya melakukan tes darah dengan hasil yang cukup bagus menurutnya.
Thalassemia, adalah sebuat kata yang tidak pernah melintas di dalam pikiranku saat itu. Tetapi, apa yang digariskanNya ternyata berbeda… Dokter mendeteksi adanya thalassemia pada bayiku.


Awal terdeteksi Thalassemia

Di usia kandungan 24 minggu, dokter menemukan ada sedikit ascites (cairan) di paru-paru dan perut janin menurut hasil USG. Lalu Ia mereferensikan saya ke klinik fetomaternal (kehamilan beresiko) di RSCM.
Ternyata diagnosa dokter adalah kemungkinan Thalassemia karena jumlah Hb dan MCV darah saya di bawah normal dan hasil USG menunjukkan gejala-gejala anemia pada bayi seperti adanya ascites dalam organ tubuh, pembengkakan liver dan tebalnya plasenta.

Pertemuan dengan dokter yang akan membantu kelahiranku

Setelah mencari pendapat beberapa dokter lain, akhirnya kami mendapat referensi dokter yang sering menangani kasus kehamilan beresiko dengan jalan transfusi darah ke tali pusat janin.
Setelah ditransfusi, kondisi janin membaik dengan berkurangnya ascites dan meningkatnya Hb. Namun liver dan jantung bayi masih mengalami pembengkakan karena anemia.

Kondisi kesehatan saya yang semakin sulit

Di kehamilan yang semakin besar, saya mengalami kaki bengkak dan berat badan saya naik drastis yang disebabkan kurangnya protein dalam darah. Saya harus diopname 2 kali di rumah sakit.
Yang pertama karena saya mengalami kontraksi tak lama sesudah transfusi yang ke-2. Saya harus bed rest di rumah sakit hingga kondisi saya kembali normal dan dapat melakukan transfusi ke-3.
Dua minggu kemudian, tekanan darah saya sangat tinggi dan didiagnosa mengalami preeklampsia sehingga saya harus diopname. Setelah kondisi berangsur membaik, saya bisa pulang ke rumah.

Kenyataan bahwa bayi kami telah meninggal
Saya belum bisa merasa lega karena saya terus memikirkan kondisi bayi kami yang masih harus berjuang hingga saya tidak dapat beristirahat dengan nyenyak setelah operasi. Pada keesokan paginya, suster sempat datang untuk mencari suami saya, tapi ia sedang pulang ke rumah untuk mengambil keperluan kami.
Firasat saya mengatakan ada sesuatu yang terjadi, namun saya tetap berdoa demi keselamatan bayi kami. Kurang lebih pukul 7 pagi, suami saya datang ke kamar dan mengatakan bahwa bayi kami telah meninggal, Tuhan telah memanggilnya kembali ke sisiNya.
Hal yang membuatku sedih adalah saya baru bisa melihat dan menggendongnya untuk pertama kali saat ia sudah terbaring kaku, tetapi wajahnya begitu damai seperti sedang tertidur dengan pulas.
Menurut dokter, kondisinya sangatlah lemah sehingga ia harus dibantu dengan alat untuk bertahan hidup. Kami percaya bahwa malaikat kami sudah berada di Surga. Maka dari itu kami harus tetap berjuang seperti bayi kami telah berjuang selama hidupnya.
Saya mengerti dan bisa merasakan pedihnya kehilangan orang yang dicintai, perasaan ibu yang kehilangan bayinya baik itu keguguran atau meninggal saat melahirkan.
Maka dari itu, saya berharap kisah ini dapat membantu para orang tua lainnya terutama untuk memeriksakan diri sebelum menikah atau hamil agar dapat mengetahui sejak dini bila ada kelainan seperti Thalassemia atau lainnya.


Ibunya Menangis !! , Yang Dilakukan Anaknya Sungguh Diluar Batas

Renunglah, Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak, Setuju?

 

Tak bisa dipungkiri, Bahwa Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak, Kesuksesan yang dicapai oleh seseorang tak bisa lepas dari peran orang tua. Terutama doa mereka. Ya, doa orang tua adalah doa yang paling mustajab, terutama doa seorang Ibu, karena doa dari mereka untuk anaknya bisa menembus langit, entah doa baik ataupun buruk.

 

 

Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa orang tua kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.

Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.


Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.

Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya orang tua, coba tanyakan kepada mereka yang salah satu orang tuanya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.

Coba bayangkan jika kita tidak punya orang tua, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna.

Suatu ketika saya pernah mendapati seorang tetangga ketika menyiram tembakau berkata pada anaknya sambil meneteskan air mata: "Semoga melaratmu saya saja yang tanggung nak, semoga hidupmu dimudahkan oleh Allah."

Doa orang tua seperti diatas sebenarnya tipikal saja, alias biasa dan lumrah. Hanya saja, ketika kisah ini diceritakan sendiri oleh anak miskin dan mempunyai masa lalu kelam hinggak akhirnya mencapai kesuksesan pada masa kininya maka kisah ini akan memiliki getaran yang berbeda. Sangat mengharukan.

Modal utama kesuksesan seorang anak adalah Doa orang tuanya. Jika kita adalah orang tua, jangan pernah bosan bosan untuk mendoakan anak-anak kita. Kalau kita adalah anak, jangan sekali kali anggap remeh peran doa orang tua kita. Kalau kita sudah sukses, yakinilah bahwa dalam kesuksesan kita ada doa orang tua sebagai ruh kesuksesan itu sendiri. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang tua kita?

Anak tetangga yang saya ceritakan diatas, Hanya punya 2 stel baju dan celana, sepatunya sepatu rusak dan itupun cuma sepasang saja. Anak tersebut selalu tersenyum walau hidupnya pun tak punya masa depan yang jelas. Satu-satunya penguat semangatnya adalah suara orang tuanya yang selalu terngiang di telinganya: "semoga cukup saya saja yang melarat, semoga engkau bahagia."

Ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa, Ada seorang ulama besar yang ingin menjadikannya menantu. Semua tetangganya mencibirnya dan berkata: "kok memilihnya jadi menantu, apa yang bisa diharapkan, dia takkan bisa membuat bahagia."

Sang calon mertua tak bertanya pekerjaan dan penghasilannya. Bertanya masalah duniawi hanya menjadi penghinaan ketika melihat fakta pakaian dan celananya jauh dari kata sederhana, terlihat beberapa bekas jahitan cukup banyak.

Pertanyaan mertuanya hanya satu: "apa kamu bisa ngaji nak?" Dijawabnya dengan anggukan kecil." Lalu dinikahkanlah dia dengan putrinya yang taat kepada orang tua.

Masya Allah, Mertua yang sangat wira'i, mendahulukan pertimbangan agama dalam mencari menantu.

Saat ini anak tetangga saya itu menjadi lelaki yang diberkahi Allah. Harta yang dimilikinya bisa dikatakan lebih dari cukup, punya anak shalih shalihah dan kehidupan yang damai bahagia.

 

sumber:wajibbaca.com  

7 Tanda Anda Punya Kecerdasan di Atas Rata-rata

Kecerdasan memang sulit diukur dengan pasti, itu sebabnya peringkat di sekolah tidak selalu bisa menunjukkan seberapa cerdas seseorang.

Anda mungkin pernah mendengar cerita bahwa Albert Einstein, salah satu ilmuwan paling berbakat, kesulitan belajar di sekolahnya dan sempat dianggap anak bodoh. Ada banyak contoh orang-orang berbakat dan sukses lain yang memiliki kisah serupa.

Sebelum Anda mengira-ngira apakah sebenarnya Anda juga memiliki potensi kecerdasan tersembunyi, coba cek beberapa tanda-tanda seseorang cerdas, berikut ini:



- Gangguan mental
Kaitan antara gangguan mental dan kecerdasan memang masih kontroversial, tetapi tak ada salahnya diperhatikan. Misalnya saja, banyak orang berbakat di bidang sastra ternyata menderita bipolar, sebut saja Vincent Van Gogh, Emily Dickinson, dan Ernest Hemingway.

Kaitan antara kecerdasan dan kesehatan mental memang belum jelas. Salah satu teori menyebut, protein spesifik yang terkait dengan memori dan rasa ingin tahu di otak tikus, juga terkiat dengan gangguan bipolar dan skizofrenia pada manusia.

Selain itu, kemampuan yang dperlukan untuk menyelesaikan soal matematika dan memproses informasi dengan cepat, bisa membuat seseorang beresiko mengalami mania (kondisi fokus tinggi dan beraktivitas tanpa lelah yang sering dialami orang bipolar).

- Bahasa kurang sopan
Walau secara umum kebanyakan orang mengaitkan bahasa yang kotor dan tidak sopan dengan kurangnya pendidikan, tetapi penelitian menunjukkan orang yang sering mengumpat ternyata cerdas. Mereka biasanya memiliki kosa kata yang lebih banyak.

- Berani ambil risiko
Seseorang yang terbuka pada tantangan baru dan tidak takut mengambil risiko cenderung punya kecerdasan lebih tinggi. Demikian menurut penelitian tahun 2015 di Finlandia.

- Kurang aktif
Meski sifat pemalas tak akan membuat seseorang lebih pintar, tetapi orang yang banyak berpikir biasanya tidak tertarik pada olahraga yang mengerahkan tenaga fisik, seperti olahraga. Sifat tidak aktif itu bagi kebanyakan orang juga dianggap sebagai kemalasan.

- Anak tertua
Urutan lahir juga berpengaruh pada kecerdasan. Anak sulung pada umumnya punya kecerdasan lebih tinggi dibanding adik-adiknya. Kemungkinan ini karena anak pertama dididik dengan disiplin lebih keras oleh orangtuanya.

- Pencemas
Senang merenung atau memikirkan sebuah situasi dan pengalaman berulang kali, bisa jadi merupakan tanda kecerdasan. Karena sering mempertimbangkan kejadian masa lalu dan masa depan secara detail, orang-orang ini juga dianggap sebagai pencemas.

- Populer
Anak yang populer biasanya mampu membaca emosi orang lain dan kepribadian dengan baik. Keterampilan itu bisa membuat anak cerdas lebih populer dibanding teman sebayanya.

Penelitian juga menyebutkan, anak-anak yang cerdas secara emosi dan bisa mengenali apa yang orang inginkan, pikirkan, dan rasakan, bisa mencapai kedudukan sosial lebih tinggi dibanding yang lain.

- Tak percaya Tuhan
Hasil analisa terhadap 35 penelitian menemukan, orang yang memandang dunia secara natural cenderung lebih cerdas dibanding orang yang religius. Mereka juga cenderung menganggap kepercayaan religius sebagai hal yang irasional dan tidak bisa dibuktikan oleh sains.

Sering Main "Gadget" Ganggu Kecerdasan Emosional Anak

Bermain gadget memiliki dampak positif dan juga negatif buat anak. Salah satu sisi positifnya, gadget bisa menjadi media untuk belajar anak. Namun, sisi negatifnya, terlalu sering main gadget justru bisa menghambat perkembangan kecerdasan emosional anak.

"Gadget itu satu arah. Komunikasinya enggak dua arah. Jadi, gadget enggak mengasah kecerdasan sosial. Untuk peka secara emosional, enggak berkembang," kata psikolog, Roslina Verauli, dalam kampanye Bebehero Bebelac di Jakarta, Selasa (29/3/2016).



Dengan terus-menerus bermain gadget, anak akan sibuk sendiri tanpa memikirkan lingkungan di sekitarnya. Menurut Vera, anak perlu dibatasi dalam penggunaan gadget. Jangan sampai anak punya ketergantungan dengan gadget sejak kecil.

Vera mengatakan, kecerdasan emosional sangat penting untuk dimiliki oleh anak-anak. Mengasah kecerdasan emosional sejak kecil bisa menumbuhkan kompetensi sosial pada anak. Salah satunya dengan menumbuhkan rasa empati.

"Ketika anak kompeten secara emosional, anak juga siap kompeten secara sosial. Anak mampu berbagi pada orang lain, bisa mengikuti aturan main. Anak yang cerdas secara emosional mampu mengendalikan emosi negatif," kata Vera.

Menurut Vera, orangtua perlu memberikan contoh baik untuk mengasah kecerdasan emosional anak. Selain gadget, perilaku orangtua dan lingkungan sekitar anak juga memengaruhi kompetensi sosial anak.

Pada kesempatan yang sama, ahli nutrisi Saptawati Bardosono menambahkan, perkembangan anak secara emosional juga perlu didukung dengan asupan nutrisi yang seimbang. Umumnya, anak mulai bisa peka secara sosial atau bisa berempati sejak usia dua atau tiga tahun. Kemudian, pada usia empat tahun, kemampuan kognitif anak akan muncul.

Agar Sukses di Masa Depan, Bekali Anak Kecerdasan Emosi

Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang cerdas. Namun, kriteria cerdas kebanyakan orangtua hanyalah keunggulan akademik semata. Padahal, ada potensi kecerdasan lain yang diperlukan anak dalam kehidupan mereka nantinya.

Kecerdasan secara kognitif memang dibutuhkan agar anak dapat menyerap informasi baru, tapi bagaimana mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat itu dalam kehidupan sehari-hari, sangat ditentukan oleh kecerdasan emosinya (emotional intelligence/EQ).

"Jadi anak tidak cuma pintar secara text book, tapi juga tahu bagaimana yang tepat diaplikasikan di dunia nyata. Misalnya, tahu bagaimana berinteraksi dengan lingkungan sosial, tahu apa yang harus dilakukan saat temannya sedang sedih atau kesulitan," kata psikolog Nadya Prameswari dalam acara kampanye Grow Them Great BebeHero Hi5 yang diadakan di Medan (15/10/2016).



Nadya mengatakan, seorang anak disebut sebagai anak pintar atau hebat, adalah jika mereka memiliki kecerdasan otak dan emosional secara optimal.

Fakta sejumlah negara maju menunjukkan, kecerdasan intelektual yang membawa penguasaan ekonomi, ilmu, dan teknologi global tidak menjamin kebahagiaan rakyatnya. Jumlah pengidap stres, depresi, dan pelaku bunuh diri tetap tinggi.

Itu sebabnya, di banyak negara maju kecerdasan emosional dianggap penting agar anak-anak kelak bisa sukses dalam hidupnya. Penelitian juga mengungkapkan, EQ memprediksi 54 persen dalam variasi kesuksesan, mulai dari kesehatan, kualitas hidup, sampai hubungan dengan orang lain.

Data juga menyimpulkan bahwa orang muda yang memiliki EQ tinggi cenderung mendapat peringkat lebih tinggi, menempuh pendidikan lebih tinggi, dan mampu membuat pilihan sehat.

Sebenarnya kecerdasan emosional pada anak bisa dikembangkan dengan cara-cara sederhana. Menurut Nadya, keluarga merupakan tempat utama dan pertama untuk memulainya.

"Di lingkup keluarga, orangtua bisa memberi contoh bagaimana cara yang tepat memperlakukan orang lain, misalnya lewat perlakuan ayah kepada ibunya atau sebaliknya, dari orangtua ke anak, dan bagaimana memperlakukan asisten rumah tangga," urai psikolog dari Rumah Dandelion ini.

Di lingkungan yang lebih luas, anak bisa belajar bagaimana berinteraksi dengan tetangga, di lingkungan sekolah dengan guru, teman-temannya, dan sebagainya.

Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence: Why it Can Matter More than IQ, mengungkapkan elemen apa saja yang berkontribusi dalam kesuksesan seseorang, terutama dalam kecerdasan emosionalnya.

Elemen yang dimaksud Goleman antara lain: mengenali emosi yang sedang terjadi padanya, mampu mengantur dan mengendalikan reaksi emosi, mengenali apa yang penting dalam hidup, memahami emosi orang lain, dan mampu membangun ikatan sosial.

Membiarkan Anak Selalu Menang Bukan Pola Asuh yang Baik

Membiarkan anak selalu menang permainan dan kompetisi bukanlah tanda sayang kepada anak.Malah, pola asuh seperti itu memberikan rasa percaya diri palsu dalam diri anak.

Sebagai orangtua, terkadang kita memang tak ingin melihat anak kecewa. Karena itu, mengalah saat bermain dengan anak atau membiarkan anak yang lebih kecil selalu menang kerap dilakukan.



Anak yang hanya mendapat pengalaman sukses memang bisa memiliki rasa percaya diri tinggi. Mereka juga lebih berani mencoba tantangan baru. Sayangnya jika kesuksesan itu bukan karena kerja kerasnya sendiri, anak akan mengira punya kemampuan istimewa dan tidak butuh bantuan orang lain.

Membuat anak selalu menang juga bisa menghalangi kemampuannya untuk belajar.

"Jika anak cuma tahu rasa kemenangan, mereka bisa mengadopsi pendekatan yang tidak efektif dalam menyelesaikan masalah dan dalam belajar," kata Dr.Carrie Palmquist, asisten profesor dari departemen psikologi Amherst College.

Untuk membangun rasa percaya diri anak, puji dan beri penghargaan terhadap keberhasilan yang memang patut dihargai. Berikan anak kesempatan untuk menyelesaikan sesuatu tanpa campur tangan orangtua.